Mantan atlet dari Swedia melakukan aksi ekstremnya dengan berenang sejauh 360 kilometer mengelilingi sebuah pulau Gotland.
Aksi ini ia lakukan sebagai bentuk perlawanannya terhadap masalah mental yang ia alami sekaligus sebagai upaya meningkatkan kesadaran terkait konservasi alam.
Ia bernama Karl Palmqvist. Renang selama 21 hari mengelilingi Gotland, pulau terbesar di Swedia. Dulu, saat remaja, ia sempat bergabung dengan tim triatlon di Hong Kong, dilansir dari SCMP, Kamis (24/2/2025).Namun, keberhasilannya ini datang setelah masa-masa sulit. Dua tahun lalu, Karl mengalami banyak cedera, krisis identitas dan tekanan berat dari dunia olahraga.
“Anak-anak sekarang didorong untuk fokus ke olahraga sejak kecil, sampai-sampai itu jadi satu-satunya hal yang mereka andalkan. Dari apa yang saya rasakan, olahraga sudah menjadi separuh dari diri saya,” ujar Karl.
“Ketika kamu hampir menjadi atlet profesional, lalu semuanya hilang karena cedera atau kelelahan mental, rasanya seperti dibiarkan sendirian tanpa tahu harus bagaimana,” ujar Karl.
Semasa kecil, ia pindah ke Shanghai ketika menginjak umur tiga tahun, lalu menetap di Hong Kong ketika menginjak usia sepuluh tahun. Ia tinggal di Hong Kong selama lima tahun sebelum kembali Swedia.
Ia menjadikan olahraga sebagai pelarian dan merasa bahwa prestasi adalah bagian dari jati dirinya. Tapi lama-lama, tekanan itu terlalu berat baginya.
Pada tahun 2019, ia berhenti dari dunia renang. Lalu mencoba powerlifting (angkat beban), sebelum akhirnya kembali berenang dan ikut lomba Ironman (gabungan renang, bersepeda, dan lari jarak jauh) untuk mencari jati dirinya yang sebenarnya.
Tapi, ia mengalami kelelahan fisik dan mental, ditambah cedera bahu berulang. Ia juga harus menjalani operasi hernia dan lutut.
Masalah yang terus menerus menimpa membuat kesehatan mentalnya menurun. Dua tahun lalu, ia mengalami kecemasan yang terjadi terus menerus, baik saat bekerja maupun ketika berada di tempat umum. Akhirnya, ia memutuskan untuk bertemu dengan psikiater untuk meminta bantuan.
Berkat terapi dan dukungan dari orang-orang terdekat, kondisinya perlahan membaik.
“Aku sendiri masih tidak percaya kalau bisa bertahan sejauh ini,” kata Karl.
Ia memutuskan untuk berenang mengelilingi Pulau Gotland sebagai pembuktian kepada dirinya sendiri kalau ia bisa menggapai impiannya besar tanpa harus mengorbankan kesehatan mentalnya.
Lewat aksi ini, ia berhasil mengumpulkan hampir 50.000 dolar Hong Kong atau sekitar Rp103 juta untuk disumbangkan ke organisasi amal bernama Suicide Zero dan Swedish Society for Nature Conservation di Swedia.
Aksi renangnya akan diangkat ke dalam film dokumenter berbahasa Inggris berjudul The Mental Island, yang rencananya tayang pada awal 2026.
“Awalnya benar-benar berat. Di hari pertama, hujan deras turun, ombak besar, dan semuanya terasa tidak berpihak pada kami,” ujarnya.
“Kayak yang kami pakai ternyata cacat dari pabriknya dan kami tidak sadar sama sekali. Kayak kami pun bocor dan terbalik berulang kali,” tambahnya.
Ia menghadapi cuaca ekstrem selama perjalanannya, mulai dari angin kencang, hujan, hingga dinginnya air. Ia bahkan kehilangan seluruh persediaan makanan dan minuman. Selama 21 hari, ia berenang rata-rata 17 kilometer per hari, dibagi dalam dua sesi, dan tidur di karavan di tepi pantai. Ia terus melanjutkan petualangannya di laut meskipun cuacanya sangat ditak mendukung.
Hari ke-15 menjadi satu-satunya hari ia tak bisa berenang karena badai menyebabkan ombak setinggi tiga meter menghantam pantai. Baru pada hari ke-18 ia menikmati laut yang tenang.
Didukung oleh keluarga, teman, dan kru dokumenter, ia berhasil menyelesaikan tantangan ini. Kini setelah tantangan selesai, ia belum tahu akan melakukan apa lagi, tapi ia bilang kalau menjadi seorang ayah di bulan Desember nanti adalah petualangan yang sesungguhnya.

